dengan spasi dan jeda
Aku disini duduk pada meja belajarku yang nyaman. Mencoba membuka inspirasi lewat satu cangkir kopi susu yang hangat. Malam ini aku cukup mempunyai kata dengan jeda yang siap disusun menjadi sebuah kalimat yang berarti. Ini terasa menyayat, karena aku menulisnya dengan bantuan sang hati. Tidak akan berarti jika tidak ditambahkan spasi disana. Tibalah disini seorang pecundang yang bersikeras menyangkal takdir. Menyisihkan segenggam prasangka yang terlena dengan bualan semesta. Rasa pedih ini seakan menghambat jalur nafas yang berhembuskan kecewa. Semua tentangmu bagai belati yang siap mencabik rongga dada. Bahkan untuk bernafas normal saja, sesaknya tiada tara.
Aku hanyalah seorang penganggu yang tak pernah tau tanda terimakasih. Yang aku tau hanyalah bagaimana caranya agar kamu tetap tangguh ketika diganggu.
Pasti mereka menyalahkanmu, atau merendahkanku? Abaikanlah, mereka tak pernah paham dengan apa yang sedang dilalui. Mereka hanya lihat dengan mata, bukan disadari pada fakta yang nyata. Mereka hanya melihat yang semu dari bias otak dangkal mereka.
Aku hanyalah seorang penganggu yang tak pernah tau tanda terimakasih. Yang aku tau hanyalah bagaimana caranya agar kamu tetap tangguh ketika diganggu.
Pasti mereka menyalahkanmu, atau merendahkanku? Abaikanlah, mereka tak pernah paham dengan apa yang sedang dilalui. Mereka hanya lihat dengan mata, bukan disadari pada fakta yang nyata. Mereka hanya melihat yang semu dari bias otak dangkal mereka.
Komentar
Posting Komentar